Metode debat
Merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat
penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan
disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok
dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua
orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan
perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang
menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru. Selanjutnya guru
dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua
posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur
debat. Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan
pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang
memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi
dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas.
Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang
penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat
diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi
proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya,
peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi
(material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor
proses belajar.
Metode Role Playing
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan
bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa.
Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya
sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih
dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan.
Kelebihan metode Role Playing: Melibatkan seluruh
siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya
dalam bekerjasama. 1. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara
utuh. 2. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam
situasi dan waktu yang berbeda. 3. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa
melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan. 4. Permainan merupakan
pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.
Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah
penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa
menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun
masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi
pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah
pemecahan masalah. Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut: 1.
Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan. 2. Berpikir dan bertindak
kreatif. 3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis 4.
Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan. 5. Menafsirkan dan mengevaluasi
hasil pengamatan. 6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat. 7. Dapat membuat pendidikan
sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja. Kelemahan metode
problem solving sebagai berikut: 1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan
metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk
melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep
tersebut. 2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan
metode pembelajaran yang lain.
Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada
masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah,
mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Langkah-langkah: 1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik
yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah
yang dipilih. 2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas
belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas,
jadwal, dll.) 3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai,
melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah,
pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah. 4. Guru membantu siswa dalam
merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu
mereka berbagi tugas dengan temannya. 5. Guru membantu siswa untuk melakukan
refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang
mereka gunakan. Kelebihan: 1. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga
pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik. 2. Dilatih untuk dapat
bekerjasama dengan siswa lain. 3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.
Kekurangan: 1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat
tercapai. 2. Membutuhkan banyak waktu dan dana. 3. Tidak semua mata pelajaran
dapat diterapkan dengan metode ini
Cooperative Script
Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa
bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi
yang dipelajari. Langkah-langkah: 1. Guru membagi siswa untuk berpasangan. 2.
Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan
siapa yang berperan sebagai pendengar. 4. Pembicara membacakan ringkasannya
selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya.
Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang
kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan
menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya. 5. Bertukar peran,
semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta
lakukan seperti di atas. 6. Kesimpulan guru. 7. Penutup. Kelebihan: * Melatih
pendengaran, ketelitian / kecermatan. * Setiap siswa mendapat peran. * Melatih
mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan. Kekurangan: * Hanya digunakan
untuk mata pelajaran tertentu * Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan
seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut).
Picture and Picture
Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang
menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.
Langkah-langkah: 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2.
Menyajikan materi sebagai pengantar. 3. Guru menunjukkan / memperlihatkan
gambar-gambar yang berkaitan dengan materi. 4. Guru menunjuk / memanggil siswa
secara bergantian memasang / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang
logis. 5. Guru menanyakan alas an / dasar pemikiran urutan gambar tersebut. 6.
Dari alasan / urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep / materi
sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. 7. Kesimpulan / rangkuman.
Kebaikan: 1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa. 2. Melatih
berpikir logis dan sistematis. Kekurangan:Memakan banyak waktu. Banyak siswa
yang pasif.
Numbered Heads Together
Numbered Heads Together adalah suatu metode belajar
dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara
acak guru memanggil nomor dari siswa. Langkah-langkah: 1. Siswa dibagi dalam
kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor. 2. Guru memberikan
tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya. 3. Kelompok mendiskusikan
jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan
hasil kerjasama mereka. 5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru
menunjuk nomor yang lain. 6. Kesimpulan. Kelebihan: * Setiap siswa menjadi siap
semua. * Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh. * Siswa yang pandai
dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Kelemahan: * Kemungkinan nomor yang
dipanggil, dipanggil lagi oleh guru. * Tidak semua anggota kelompok dipanggil
oleh guru
Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai
metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam
pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik
dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi.
Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam
berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills).
Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas
menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan
karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas
kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para
siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam
terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan
menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun deskripsi
mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai
berikut: a. Seleksi topik Parasiswa memilih berbagai subtopik dalam suatu
wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para
siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi
pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi
kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
b. Merencanakan kerjasama Parasiswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur
belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan
subtopik yang telah dipilih dari langkah a) di atas. c. Implementasi Parasiswa
melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). Pembelajaran harus
melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan
mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di
dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap
kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan. d. Analisis dan sintesis
Parasiswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada
langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang
menarik di depan kelas. e. Penyajian hasil akhir Semua kelompok menyajikan
suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar
semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas
mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru. f. Evaluasi
Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok
terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup
tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.
Metode Jigsaw
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan
informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru
membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat
orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap
komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari
masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama
membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga
orang. Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya
dalam: a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya; b) merencanakan bagaimana
mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu
siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam
subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada
temannya. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh
siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi
yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus
menguasai topik secara keseluruhan.
Metode Team Games Tournament (TGT)
Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu
tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan
aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran
siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif
model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan
tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Ada5
komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu: 1. Penyajian kelas Pada
awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya
dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin
guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan
memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih
baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan
menentukan skor kelompok. 2. Kelompok (team) Kelompok biasanya terdiri dari 4
sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik,
jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami
materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota
kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game. 3. Game Game
terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan
yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game
terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu
bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa
yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya
dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan. 4. Turnamen Biasanya turnamen
dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan
presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama
guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi
prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan
seterusnya. 5. Team recognize (penghargaan kelompok) Guru kemudian mengumumkan
kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah
apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan
“Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata
mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40
Model Student Teams – Achievement Divisions (STAD)
Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa
yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti. Langkah-langkah: 1.
Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut
prestasi, jenis kelamin, suku, dll.). 2. Guru menyajikan pelajaran. 3. Guru
memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota
yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam
kelompok itu mengerti. 4. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa.
Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu. 5. Memberi evaluasi. 6.
Penutup. Kelebihan: 1. Seluruh siswa menjadi lebih siap. 2. Melatih kerjasama
dengan baik. Kekurangan: 1. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan. 2.
Membedakan siswa. Model Examples Non Examples Examples Non Examples adalah
metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh dapat dari kasus /
gambar yang relevan dengan KD. Langkah-langkah: 1. Guru mempersiapkan
gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. 2. Guru menempelkan gambar di
papan atau ditayangkan lewat OHP. 3. Guru memberi petunjuk dan memberi
kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar. 4. Melalui
diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut
dicatat pada kertas. 5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil
diskusinya. 6. Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai
menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. 7. KKesimpulan. Kebaikan:
1. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar. 2. Siswa mengetahui aplikasi
dari materi berupa contoh gambar. 3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan
pendapatnya. Kekurangan: 1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk
gambar. 2. Memakan waktu yang lama.
Model Lesson Study
Lesson Study adalah suatu metode yang dikembankan di
Jepang yang dalam bahasa Jepangnyadisebut Jugyokenkyuu. Istilah lesson study
sendiri diciptakan oleh Makoto Yoshida. Lesson Study merupakan suatu proses
dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan
menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif. Adapun
langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Sejumlah guru bekerjasama dalam suatu
kelompok. Kerjasama ini meliputi: a. Perencanaan. b. Praktek mengajar. c. Observasi.
d. Refleksi/ kritikan terhadap pembelajaran. 2. Salah satu guru dalam kelompok
tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu membuat rencana pembelajaran yang
matang dilengkapi dengan dasar-dasar teori yang menunjang. 3. Guru yang telah
membuat rencana pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di kelas sesungguhnya.
Berarti tahap praktek mengajar terlaksana. 4. Guru-guru lain dalam kelompok
tersebut mengamati proses pembelajaran sambil mencocokkan rencana pembelajaran
yang telah dibuat. Berarti tahap observasi terlalui. 5. Semua guru dalam
kelompok termasuk guru yang telah mengajar kemudian bersama-sama mendiskusikan
pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Tahap ini
merupakan tahap refleksi. Dalam tahap ini juga didiskusikan langkah-langkah
perbaikan untuk pembelajaran berikutnya. 6. Hasil pada (5) selanjutnya
diimplementasikan pada kelas/ pembelajaran berikutnya dan seterusnya kembali ke
(2). Adapun kelebihan metode lesson study sebagai berikut: – Dapat diterapkan
di setiap bidang mulai seni, bahasa, sampai matematika dan olahraga dan pada
setiap tingkatan kelas. – Dapat dilaksanakan antar/ lintas sekolah.
Model Pembelajaran ARIAS
Model pembelajaran ARIAS dikembangkan sebagai salah
satu alternatif yang dapat digunakan oleh guru sebagai dasar melaksanakan
kegiatan pembelajaran dengan baik. Model pembelajaran ARIAS berisi lima
komponen yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam kegiatan
pembelajaran yaitu assurance, relevance, interest, assessment, dan satisfaction
yang dikembangkan berdasarkan teori-teori belajar. Model ini sudah dicobakan di
dua sekolah yang berbeda yaitu salah satu SD negeri di Kota Palembang
(percobaan pertama) dan satu SD negeri di Sekayu, Kabupaten Musi Banyu Asin
(percobaan kedua). Hasil percobaan di lapangan menunjukkan bahwa model
pembelajaran ARIAS memberi pengaruh yang positif terhadap motivasi berprestasi
dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil percobaan tersebut model
pembelajaran ARIAS dapat digunakan oleh para guru sebagai dasar melaksanakan kegiatan
pembelajaran dalam usaha meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar
siswa. Model pembelajaran ARIAS merupakan modifikasi dari model ARCS. Model
ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction), dikembangkan oleh Keller
dan Kopp (1987: 2-9) sebagai jawaban pertanyaan bagaimana merancang
pembelajaran yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi dan hasil belajar.
Model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan teori nilai harapan (expectancy
value theory) yang mengandung dua komponen yaitu nilai (value) dari tujuan yang
akan dicapai dan harapan (expectancy) agar berhasil mencapai tujuan itu. Dari
dua komponen tersebut oleh Keller dikembangkan menjadi empat komponen. Keempat
komponen model pembelajaran itu adalah attention, relevance, confidence dan
satisfaction dengan akronim ARCS (Keller dan Kopp, 1987: 289-319). Model
pembelajaran ini menarik karena dikembangkan atas dasar teori-teori belajar dan
pengalaman nyata para instruktur (Bohlin, 1987: 11-14). Namun demikian, pada
model pembelajaran ini tidak ada evaluasi (assessment), padahal evaluasi
merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran.
Evaluasi yang dilaksanakan tidak hanya pada akhir kegiatan pembelajaran tetapi
perlu dilaksanakan selama proses kegiatan berlangsung. Evaluasi dilaksanakan
untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang dicapai atau hasil belajar
yang diperoleh siswa (DeCecco, 1968: 610). Evaluasi yang dilaksanakan selama
proses pembelajaran menurut Saunders et al. seperti yang dikutip Beard dan
Senior (1980: 72) dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Mengingat pentingnya
evaluasi, maka model pembelajaran ini dimodifikasi dengan menambahkan komponen
evaluasi pada model pembelajaran tersebut. Dengan modifikasi tersebut, model
pembelajaran yang digunakan mengandung lima komponen yaitu: attention
(minat/perhatian); relevance (relevansi); confidence (percaya/yakin);
satisfaction (kepuasan/bangga), dan assessment (evaluasi). Modifikasi juga
dilakukan dengan penggantian nama confidence menjadi assurance, dan attention
menjadi interest. Penggantian nama confidence (percaya diri) menjadi assurance,
karena kata assurance sinonim dengan kata self-confidence (Morris, 1981: 80).
Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya percaya bahwa siswa akan mampu dan
berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri siswa
bahwa mereka merasa mampu dan dapat berhasil. Demikian juga penggantian kata
attention menjadi interest, karena pada kata interest (minat) sudah terkandung
pengertian attention (perhatian). Dengan kata interest tidak hanya sekedar
menarik minat/perhatian siswa pada awal kegiatan melainkan tetap memelihara
minat/perhatian tersebut selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk
memperoleh akronim yang lebih baik dan lebih bermakna maka urutannya pun
dimodifikasi menjadi assurance, relevance, interest, assessment dan
satisfaction. Makna dari modifikasi ini adalah usaha pertama dalam kegiatan
pembelajaran untuk menanamkan rasa yakin/percaya pada siswa. Kegiatan
pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan
memelihara minat/perhatian siswa. Kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan
rasa bangga pada siswa dengan memberikan penguatan (reinforcement). Dengan
mengambil huruf awal dari masing-masing komponen menghasilkan kata ARIAS
sebagai akronim. Oleh karena itu, model pembelajaran yang sudah dimodifikasi
ini disebut model pembelajaran ARIAS. Komponen Model Pembelajaran ARIAS Seperti
yang telah dikemukakan model pembelajaran ARIAS terdiri dari lima komponen (assurance,
relevance, interest, assessment, dan satisfaction) yang disusun berdasarkan
teori belajar. Kelima komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang diperlukan
dalam kegiatan pembelajaran. Deskripsi singkat masing-masing komponen dan
beberapa contoh yang dapat dilakukan untuk membangkitkan dan meningkatkannya
kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut. Komponen pertama model
pembelajaran ARIAS adalah assurance (percaya diri), yaitu berhubungan dengan
sikap percaya, yakin akan berhasil atau yang berhubungan dengan harapan untuk
berhasil (Keller, 1987: 2-9). Menurut Bandura seperti dikutip oleh Gagne dan
Driscoll (1988: 70) seseorang yang memiliki sikap percaya diri tinggi cenderung
akan berhasil bagaimana pun kemampuan yang ia miliki. Sikap di mana seseorang
merasa yakin, percaya dapat berhasil mencapai sesuatu akan mempengaruhi mereka
bertingkah laku untuk mencapai keberhasilan tersebut. Sikap ini mempengaruhi
kinerja aktual seseorang, sehingga perbedaan dalam sikap ini menimbulkan
perbedaan dalam kinerja. Sikap percaya, yakin atau harapan akan berhasil
mendorong individu bertingkah laku untuk mencapai suatu keberhasilan (Petri,
1986: 218). Siswa yang memiliki sikap percaya diri memiliki penilaian positif
tentang dirinya cenderung menampilkan prestasi yang baik secara terus menerus
(Prayitno, 1989: 42). Sikap percaya diri, yakin akan berhasil ini perlu
ditanamkan kepada siswa untuk mendorong mereka agar berusaha dengan maksimal
guna mencapai keberhasilan yang optimal. Dengan sikap yakin, penuh percaya diri
dan merasa mampu dapat melakukan sesuatu dengan berhasil, siswa terdorong untuk
melakukan sesuatu kegiatan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mencapai hasil
yang lebih baik dari sebelumnya atau dapat melebihi orang lain. Beberapa cara
yang dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap percaya diri adalah: – Membantu
siswa menyadari kekuatan dan kelemahan diri serta menanamkan pada siswa
gambaran diri positif terhadap diri sendiri. Menghadirkan seseorang yang
terkenal dalam suatu bidang sebagai pembicara, memperlihatkan video tapes atau
potret seseorang yang telah berhasil (sebagai model), misalnya merupakan salah
satu cara menanamkan gambaran positif terhadap diri sendiri dan kepada siswa.
Menurut Martin dan Briggs (1986: 427-433) penggunaan model seseorang yang
berhasil dapat mengubah sikap dan tingkah laku individu mendapat dukungan luas
dari para ahli. Menggunakan seseorang sebagai model untuk menanamkan sikap
percaya diri menurut Bandura seperti dikutip Gagne dan Briggs (1979: 88) sudah
dilakukan secara luas di sekolah-sekolah. – Menggunakan suatu patokan, standar
yang memungkinkan siswa dapat mencapai keberhasilan (misalnya dengan mengatakan
bahwa kamu tentu dapat menjawab pertanyaan di bawah ini tanpa melihat buku). –
Memberi tugas yang sukar tetapi cukup realistis untuk diselesaikan/sesuai
dengan kemampuan siswa (misalnya memberi tugas kepada siswa dimulai dari yang
mudah berangsur sampai ke tugas yang sukar). Menyajikan materi secara bertahap
sesuai dengan urutan dan tingkat kesukarannya menurut Keller dan Dodge seperti
dikutip Reigeluth dan Curtis dalam Gagne (1987: 175-202) merupakan salah satu
usaha menanamkan rasa percaya diri pada siswa. – Memberi kesempatan kepada
siswa secara bertahap mandiri dalam belajar dan melatih suatu keterampilan.
Komponen kedua model pembelajaran ARIAS, relevance, yaitu berhubungan dengan
kehidupan siswa baik berupa pengalaman sekarang atau yang telah dimiliki maupun
yang berhubungan dengan kebutuhan karir sekarang atau yang akan datang (Keller,
1987: 2-9). Siswa merasa kegiatan pembelajaran yang mereka ikuti memiliki
nilai, bermanfaat dan berguna bagi kehidupan mereka. Siswa akan terdorong
mempelajari sesuatu kalau apa yang akan dipelajari ada relevansinya dengan
kehidupan mereka, dan memiliki tujuan yang jelas. Sesuatu yang memiliki arah
tujuan, dan sasaran yang jelas serta ada manfaat dan relevan dengan kehidupan
akan mendorong individu untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan tujuan yang
jelas mereka akan mengetahui kemampuan apa yang akan dimiliki dan pengalaman
apa yang akan didapat. Mereka juga akan mengetahui kesenjangan antara kemampuan
yang telah dimiliki dengan kemampuan baru itu sehingga kesenjangan tadi dapat
dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali (Gagne dan Driscoll, 1988: 140).
Dalam kegiatan pembelajaran, para guru perlu memperhatikan unsur relevansi ini.
Beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan relevansi dalam
pembelajaran adalah: – Mengemukakan tujuan sasaran yang akan dicapai. Tujuan
yang jelas akan memberikan harapan yang jelas (konkrit) pada siswa dan
mendorong mereka untuk mencapai tujuan tersebut (DeCecco,1968: 162). Hal ini
akan mempengaruhi hasil belajar mereka. – Mengemukakan manfaat pelajaran bagi
kehidupan siswa baik untuk masa sekarang dan/atau untuk berbagai aktivitas di
masa mendatang. – Menggunakan bahasa yang jelas atau contoh-contoh yang ada
hubungannya dengan pengalaman nyata atau nilai- nilai yang dimiliki siswa.
Bahasa yang jelas yaitu bahasa yang dimengerti oleh siswa. Pengalaman nyata
atau pengalaman yang langsung dialami siswa dapat menjembataninya ke hal-hal
baru. Pengalaman selain memberi keasyikan bagi siswa, juga diperlukan secara
esensial sebagai jembatan mengarah kepada titik tolak yang sama dalam
melibatkan siswa secara mental, emosional, sosial dan fisik, sekaligus
merupakan usaha melihat lingkup permasalahan yang sedang dibicarakan (Semiawan,
1991). (4) Menggunakan berbagai alternatif strategi dan media pembelajaran yang
cocok untuk pencapaian tujuan. Dengan demikian dimungkinkan menggunakan
bermacam-macam strategi dan/atau media pembelajaran pada setiap kegiatan
pembelajaran. Komponen ketiga model pembelajaran ARIAS, interest, adalah yang
berhubungan dengan minat/perhatian siswa. Menurut Woodruff seperti dikutip oleh
Callahan (1966: 23) bahwa sesungguhnya belajar tidak terjadi tanpa ada
minat/perhatian. Keller seperti dikutip Reigeluth (1987: 383-430) menyatakan
bahwa dalam kegiatan pembelajaran minat/perhatian tidak hanya harus
dibangkitkan melainkan juga harus dipelihara selama kegiatan pembelajaran
berlangsung. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan berbagai bentuk dan
memfokuskan pada minat/perhatian dalam kegiatan pembelajaran. Herndon
(1987:11-14) menunjukkan bahwa adanya minat/perhatian siswa terhadap tugas yang
diberikan dapat mendorong siswa melanjutkan tugasnya. Siswa akan kembali
mengerjakan sesuatu yang menarik sesuai dengan minat/perhatian mereka.
Membangkitkan dan memelihara minat/perhatian merupakan usaha menumbuhkan
keingintahuan siswa yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.
Minat/perhatian merupakan alat yang sangat berguna dalam usaha mempengaruhi
hasil belajar siswa. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk membangkitkan dan
menjaga minat/perhatian siswa antara lain adalah: – Menggunakan cerita,
analogi, sesuatu yang baru, menampilkan sesuatu yang lain/aneh yang berbeda
dari biasa dalam pembelajaran. – Memberi kesempatan kepada siswa untuk
berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran, misalnya para siswa diajak
diskusi untuk memilih topik yang akan dibicarakan, mengajukan pertanyaan atau mengemukakan
masalah yang perlu dipecahkan. – Mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran
misalnya menurut Lesser seperti dikutip Gagne dan Driscoll (1988: 69) variasi
dari serius ke humor, dari cepat ke lambat, dari suara keras ke suara yang
sedang, dan mengubah gaya mengajar. – Mengadakan komunikasi nonverbal dalam
kegiatan pembelajaran seperti demonstrasi dan simulasi yang menurut Gagne dan
Briggs (1979: 157) dapat dilakukan untuk menarik minat/perhatian siswa.
Komponen keempat model pembelajaran ARIAS adalah assessment, yaitu yang
berhubungan dengan evaluasi terhadap siswa. Evaluasi merupakan suatu bagian
pokok dalam pembelajaran yang memberikan keuntungan bagi guru dan murid
(Lefrancois, 1982: 336). Bagi guru menurut Deale seperti dikutip Lefrancois (1982:
336) evaluasi merupakan alat untuk mengetahui apakah yang telah diajarkan sudah
dipahami oleh siswa; untuk memonitor kemajuan siswa sebagai individu maupun
sebagai kelompok; untuk merekam apa yang telah siswa capai, dan untuk membantu
siswa dalam belajar. Bagi siswa, evaluasi merupakan umpan balik tentang
kelebihan dan kelemahan yang dimiliki, dapat mendorong belajar lebih baik dan
meningkatkan motivasi berprestasi (Hopkins dan Antes, 1990:31). Evaluasi
terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang
telah mereka capai. Apakah siswa telah memiliki kemampuan seperti yang
dinyatakan dalam tujuan pembelajaran (Gagne dan Briggs, 1979:157). Evaluasi
tidak hanya dilakukan oleh guru tetapi juga oleh siswa untuk mengevaluasi diri
mereka sendiri (self assessment) atau evaluasi diri. Evaluasi diri dilakukan
oleh siswa terhadap diri mereka sendiri, maupun terhadap teman mereka. Hal ini
akan mendorong siswa untuk berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya agar
mencapai hasil yang maksimal. Mereka akan merasa malu kalau kelemahan dan
kekurangan yang dimiliki diketahui oleh teman mereka sendiri. Evaluasi terhadap
diri sendiri merupakan evaluasi yang mendukung proses belajar mengajar serta
membantu siswa meningkatkan keberhasilannya (Soekamto, 1994). Hal ini sejalan
dengan yang dikemukakan Martin dan Briggs seperti dikutip Bohlin (1987: 11-14)
bahwa evaluasi diri secara luas sangat membantu dalam pengembangan belajar atas
inisiatif sendiri. Dengan demikian, evaluasi diri dapat mendorong siswa untuk
meningkatkan apa yang ingin mereka capai. Ini juga sesuai dengan apa yang
dikemukakan Morton dan Macbeth seperti dikutip Beard dan Senior (1980: 76)
bahwa evaluasi diri dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Oleh karena itu,
untuk mempengaruhi hasil belajar siswa evaluasi perlu dilaksanakan dalam
kegiatan pembelajaran. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan
evaluasi antara lain adalah: * Mengadakan evaluasi dan memberi umpan balik
terhadap kinerja siswa. * Memberikan evaluasi yang obyektif dan adil serta
segera menginformasikan hasil evaluasi kepada siswa. * Memberi kesempatan
kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap diri sendiri. * Memberi kesempatan
kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap teman. Komponen kelima model
pembelajaran ARIAS adalah satisfaction yaitu yang berhubungan dengan rasa
bangga, puas atas hasil yang dicapai. Dalam teori belajar satisfaction adalah
reinforcement (penguatan). Siswa yang telah berhasil mengerjakan atau mencapai
sesuatu merasa bangga/puas atas keberhasilan tersebut. Keberhasilan dan
kebanggaan itu menjadi penguat bagi siswa tersebut untuk mencapai keberhasilan
berikutnya (Gagne dan Driscoll, 1988: 70). Reinforcement atau penguatan yang
dapat memberikan rasa bangga dan puas pada siswa adalah penting dan perlu dalam
kegiatan pembelajaran (Hilgard dan Bower, 1975:561). Menurut Keller berdasarkan
teori kebanggaan, rasa puas dapat timbul dari dalam diri individu sendiri yang
disebut kebanggaan intrinsik di mana individu merasa puas dan bangga telah
berhasil mengerjakan, mencapai atau mendapat sesuatu. Kebanggaan dan rasa puas
ini juga dapat timbul karena pengaruh dari luar individu, yaitu dari orang lain
atau lingkungan yang disebut kebanggaan ekstrinsik (Keller dan Kopp, 1987:
2-9). Seseorang merasa bangga dan puas karena apa yang dikerjakan dan
dihasilkan mendapat penghargaan baik bersifat verbal maupun nonverbal dari
orang lain atau lingkungan. Memberikan penghargaan (reward) menurut Thorndike
seperti dikutip oleh Gagne dan Briggs (1979: 8)merupakan suatu penguatan
(reinforcement) dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, memberikan
penghargaan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mempengaruhi
hasil belajar siswa (Hilgard dan Bower, 1975: 561). Untuk itu, rasa bangga dan
puas perlu ditanamkan dan dijaga dalam diri siswa. Beberapa cara yang dapat
dilakukan antara lain : – Memberi penguatan (reinforcement), penghargaan yang
pantas baik secara verbal maupun non-verbal kepada siswa yang telah menampilkan
keberhasilannya. Ucapan guru : “Bagus, kamu telah mengerjakannya dengan baik
sekali!”. Menganggukkan kepala sambil tersenyum sebagai tanda setuju atas
jawaban siswa terhadap suatu pertanyaan, merupakan suatu bentuk penguatan bagi
siswa yang telah berhasil melakukan suatu kegiatan. Ucapan yang tulus dan/atau
senyuman guru yang simpatik menimbulkan rasa bangga pada siswa dan ini akan
mendorongnya untuk melakukan kegiatan lebih baik lagi, dan memperoleh hasil
yang lebih baik dari sebelumnya. – Memberi kesempatan kepada siswa untuk
menerapkan pengetahuan/keterampilan yang baru diperoleh dalam situasi nyata
atau simulasi. – Memperlihatkan perhatian yang besar kepada siswa, sehingga
mereka merasa dikenal dan dihargai oleh para guru. – Memberi kesempatan kepada
siswa untuk membantu teman mereka yang mengalami kesulitan/memerlukan bantuan.